Jumat, 04 Januari 2013

INFEKSI CACING TERMATODA



INFEKSI CACING TERMATODA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Trematoda adalah cacing yang secara morfologi berbentuk pipih seperti daun. Pada umumnya cacing ini bersifat hermaprodit, kecuali genus Schistosoma. Pada dasarnya daur hidup trematoda ini melampui beberapa beberapa fase kehidupan dimana dalam fase tersebut memerlukan hospes intermedier untuk perkembangannya. Menurut lokasi berparasitnya cacing trematoda dikelompokkan sbagai berikut:
1)          Trematoda pembuluh darah: Schistosoma haematobium, S. mansoni, S. japonicum
2)          Trematoda paru: Paragonimus westermani
3)          Trematoda usus: Fasciolopsis buski, Echinostoma revolutum, E. ilocanum
4)          Trematoda hati: Clonorchis sinensis, Fasciola hepatica, F. gigantica.

1.2  Tujuan
Adapun tujan pembuatan makalah ini adalah
  1. Dapat mengetahui klasifikasi Trematoda
  2. Dapat mengetahui morfologi Trematoda
  3. Dapat mengetahui siklus hidup Trematoda
  4. Sebagai bahan pembelajaran PKPKR

  5.  
BAB II
ISI

2.1  Pengertian
Cacing trematoda banyak ditemukan di RRC, Korea, Jepang, Filipina, Thailand, Vietnam, Taiwan, India, dan Afrika. Beberapa spesies ditemukan di Indonesia seperti Fasciolopsis buski di Kalimantan, Echinostoma di Jawa  dan Sulawesi, HETEROPHYIDAE di Jakarta dan Schistosoma japonicum di Sulawesi Tengah.

a.       Morfologi dan Daur Hidup
Pada umumnya bentuk badan cacing dewasa pipih dorsoventral dan simetris bilateral, tidak mempunyai rongga badan. Ukuran panjang cacing dewasa sangat beraneka ragam dari 1mm sampai kurang lebih 75mm. tanda khas lainnya adalah terdapat 2 buah batil isap, yaitu batil isap mulut dan batil isap perut. Beberapa special mempunyai batil isap genital. Saluran pencernaan enyerupai huruf Y terbalik yang dimulai dengan mulut dan berakhir buntu pada sekum. Pada umumnya trematoda tidak mempunyai alat pernapasan khusus, karena hidupnya secara anaerob. Saluran ekskresi terdapat simetris bilateral dan berakhir di bagian posterior. Susunan saraf dimulai dengan ganglion di bagian dorsal esophagus, kemudian terdapat seraf yang memanjang di bagian  dorsal,ventral dan lateral badan. Cacing ini bersifat hermafrodit dengan alat reproduksi yang konpleks.
Cacing dewasa hidup di dalam tubuh hospes definitive. Telur diletakkan disaluran hati, rongga usus, paru, pembuluh darah atau di jaringan tempat cacing hidup dan telur biasanya keluar bersama tinja, dahak atau urin. Pada umumnya telur berisi sel telur, hanya pada beberapa spesies telur sudah mengandung mirasidium ( M ) yang mempunyai bulu getar. Didalam air telur menetas bila sudah mengandung mirasidium ( telur matang ). Pada spesies trematoda yang mengeluarkan telur berisi sel telur, telur akan menjadi matang dalam waktu kurang lebih 2-3 minggu. Pada beberapa spesies tremotoda telur matang menetas bila ditelan keong ( hospes peramtara ) dan keluarlah mirasidium yang masuk ke dalam keong; atau telur dapat langsung menetas dan mirasidium berenang dalam air; dalam waktu 24 jam mirasidium harus sudah menemukan keong air agar dapat melanjutkan perkembangannya. Keong air di sini berfungsi sebagai hospes perantara pertama ( HP 1 ). Dalam keong air tersebut mirasidium berkembang menjadi sebuah kantung yang berisi embrio, yang di sebut sporokista ( S ). Spoprokista ini dapat mengandung sporokista lain atau redia ( R );bentuknya berupa kantung yang sudah mempunyai mulut, faring dan sekum. Didalam dompet sporokista II atau redia ( R ), larva berkembang menjadi serkaria ( SK ).
Perkembangan larva alam hospes perantara I mungkin terjadi sebagai berikut :
M           S          R         SK                               : misalnya Clonorchis sinesis
M           S1        S2        SK                               : misalnya Schistosoma
M           S          R1       R2       SK                   : misalnya trematoda lainnya
Serkaria kemudian keluar dari keong air dan mencari hospes perantara II yang berupa ikan, tumbuh-tumbuhan air, ketam, udang batu dan keong air lainnya, atau dapat menginfeksi hospes definitive secara langsung seperti pada Schitosoma. Dalam hospes perantara II serkaria berubah menjadi metaserkaria yang berbebtuk kista. Hospes definitive mendapat infeksi bila makan hospes perantara II yang mengandung metaserkaria yang tidak dimasak dengan baik. Infeksi cacing Schistosoma terjadi dengan cara serkaria menembus kulit hospes  definitive yang kemudian berubah menjadi skistosomula, lalu berkembang menjadi cacing dewasa dalam tubuh hospes.

b.      Patologi dan Gejala Klinis
Kelainan yang disebabkan cacing daun tergantung dari lokalisasi cacing dalam tubuh hospes; selain itu ada juga pengaruh rangsangan setempat dan zat toksin di keluarkan oleh cacing. Reaksi sistemik terjadi karena absorbsi zat toksin, sehingga menghasilkan gejala alergi, demam, sakit kepala dan lain-lain. Cacing daun yang hidup di rongga usus biasanya tidak memberi gejala atau hanya gejala gastrointestinal ringan seperti mual, muntah, sakit perut dan diare. Bila cacing hidup dijaringan paru seperti Paragonimus, mungkin menimbulkan gejala batuk, sesak napas dan mungkin terjadi batuk darah (hemoptisis). Cacing yang hidup di saluran empedu hati seperti Clonorchis, Opisthorchis, dan Fasciola dapat menimbulkan rangsangan dan menyebabkan peradangan saluran empedu, dapat menyebabkan penyumbatan aliran empedu sehingga menimbulkan gejala ikterus. Akibat lainnya adalah peradangan hati sehigga terjadi hepatomegali. Cacing Schistosoma yang hidup di pembuluh darah, ternyata terutama telurnya menimbulkan kelainan yang berupa peradangan, pseudo-abses dan akhirnya terjadi fibrosis jaringan alat yang diinfiltrasi oleh telur cacing ini, seperti dinding usus, dinding kandung kemih, hati, jantung, otak dan lain-lain.

c.       Diagnosis dan Pengobatan
Diagnosis dibuat dengan menemukan telur dalam tinja, dahag, urin atau dalam jaringan biopsi, dapat pula dengan reaksi serologi untuk membantu menegakan diagnosis. Obat yang terbaik untuk mencegah cacing daun adalah prazikuantel (Biltricide, Distocide).




2.2  Jenis - Jenis Termatoda

1.      Trematoda Hati (Clonorchis sinensis)
Cacing ini pertama kali ditemukan oleh Mc Connell tahun 1874 disaluran empedu pada seorang cina di kalkuta.hospes dari parasit ini adalah manusia, kucing, anjing, beruang kutub dan babi. Penyakit yang disebabkan oleh cacing ini adalah klonorkiasis. Trematoda hati banyak di temukan di Cina, Jepang, Korea dan Vietnam. Penyakit yang ditemukan di Indonesia bukan infeksi autokton.
a.       Morfologi dan Daur Hidup
Cacing dewasa hidup di saluran empedu, kadang-kadang di tetemukan di saluran pancreas. Ukuran cacing dewasa 10-25 mm x 3-5 mm, bentuknya pipih, lonjong, menyerupai daun. Telur berukuran kira-kira 30x16 mikron, bentuknya seperti bola lampu pijar dan berisi mirasidium, di temukan di saluran empedu.
Telur di keluarkan dengan tinja. Telur menetas bila dimakan keong air. Dalam keong air, mirasidium berkembang menjadi sporokista, redia lalu sarkaria. Serkaria keluar dari air dan mencari hospes perantara II, yaitu ikan. Setelah menembus masuk tubuh ikan serkaria melepaskan ekornya dan membentuk kista didalam kulit dibawah sisik. Kista ini disebut metaserkaria.
Infeksi terjadi dengan makan ikan yang mengandung metaserkaria yang dimasak kurang matang. Ekskistasi terjadi di duodenum. Kemudian larva masuk di dektus koledokus, lalu menuju ke saluran empedu yang lebih kecil dan menjadi dewasa dalam waktu sebulan. Seluruh daur hidup berlangsung selama 3 bulan.
b.      Patologi dan Gejala Klinis
Sejak larva masuk disaluran empedu sampai menjadi dewasa, parasit ini dapat menyebabkan iritasi pada saluran empedu dan penebalan dinding saluran. Selain itu dapat terjadi perubahan jaringan hati yang berupa radang sel hati. Pada keadaan lebih lanjut dapat timbul sirosis hati disertai asites dan edema. Luasnya organ yang mengalami kerusakan bergantung pada jumlah cacing yang terdapat disaluran empedu dan lamanya infeksi.
Gejala dapat dibagi menjadi 3 stadium. Pada stadium ringan tidak ditemukan gejala. Stadum progresif ditandai dengan menurunya nafsu makan, perut terasa penuh, diare, edema dan pembesaran hati. Pada stadium lanjut didapatkan sindrum hipertensi portal yang terdiri dari pembesaran hati, ikterus, asites, edema, sirosi hepatis. Kadang-kadang dapat menimbulkan keganasan dalam hati.

c.       Diagnosis dan Pengobatan
Diagnosis ditegakan dengan menemukan telur yang berbentuk khas dalam tinja atau dalam cairan duodenum. Penyakit ini dapat diobati dengan parazikuantel.

2.      Trematoda Paru
Manusia dan binatang yang memakan ketam/udang batu, seperti kucing, luak, anjing, harimau, srigala dan lain-lain merupakan hospes cacing ini. Pada manusia parasit ini menyebabkan paragonimiasis. Cacing ini banyak ditemukan di RRC, Taiwan, Korea, Jepang, Filipina, Vietnam, Thailand, India, Malaysia, Afrika dan Amerika Latin. Di Indonesia ditemukan autokton pada binatang, sedangkan pada manusi hanya sebagai kasus inpor saja.
a.       Morfologi dan Daur Hidup
Cacing dewasa hidup dalam kista di paru. Bentuknya bundar lonjong menyerupai biji kopi dengan ukuran 8-12 x 4-6 mm dan berwarna coklat tua. Batil isap mulut hamper sama besa dengan batil isap perut. Testis berlobus terletak berdampingan antara antara basil isap perut dan ekor. Ovarium terletak di belakang batil isap perut. Telur berbentuk lonjong berukuran 80-118 mikron x 40-60 mikron dengan operculum agak tertekan kedalam. Waktu keluar bersama tinja atau sputum, telurnya belum berisi mirasidium.
Serkaria keluardari keong air, berenang mencari hospes perantara II yaitu ketam atau udang batu, lalu membentuk metaserkaria di dalam tubuhnya. Infeksi terjadi dengan makan ketam atau udang batu yang tidak dimasak sampai matang.
Dalam hospes defenitif, metaserkaria menjadi cacing dewasa muda di duodenum. Cacing dewasa muda bermigrasi menembus dinding usus, masuk ke rongga perut, menembus diafragma dan menuju ke paru. Jaringan hospes mengadakan reaksi jaringan sehingga cacing dewasa terbungkus dalam kista, biasanya ditemukan 2 ekor di dalamnya.



b.      Patologi dan Gejala Klinis
Karena cacing dewasa berada dalam kista di paru, maka gejala di mulai dengan adanya batuk kering yang lama kelamaan menjadi batuk dara. Keadaan ini disebut endemic hemoptysis. Cacing dewasa dapat pula bermigrasi kea lat-alat lain dan menimbulkan abses pada alat tersebut (antara lain hati, limpa, otak, otot, dinding usus).

c.       Diagnosis dan Pengobatan
Diagnosis dibuat dengan menemukan telur dalam sputum atau cairan pleura. Kadang-kadang telur juga ditemukan dalam tinja. Reaksi serologi sangat membantu untuk menegakan diagnosis. Prazikuantel dan bitionol merupakan obat pilihan yang baik untuk menanggulangi cacing ini.

3.      Trematoda Usus
Macam-macam spesies Trematoda usus adalah: F. buski, H. heterophyes, M. yokagawai, Echinostoma, Hypoderaeum dan Gastrodiscus. F. buski adalah suatu trematoda yang didapat pada manusia atau hewan yang mempunyai ukuran terbesar diantara trematoda lainnya. Cacing Hypoderaeum  adalah cacing trematoda kecil hanya kurang lebih beberapa millimeter. Manusia menjadi hospes definitifnya dan hewan-hewan lain seperti mamalia (anjing, kucing) dan burung dapat menjadi hospes reservoar.
a.       Morfologi dan Daur Hidup
Cacing F. buski yang ditemukan pada manusia mempunyai ukuran panjang 2-7,5 cm dan lebar 0.8-2,0 cm. bentuknya agak lonjong dan tebal. Biasanya kutikulum ditutupi duri-duri kecil yang letaknya melintang. Cacing Hypoderaeum  berukuran panjang antara 1-1.7 mm dan lebar antara 0,3-0,75 mm,keculai genus haplorcis yang jauh lebih kecil, yaitu panjang 0,41-0,51 mm dan lebar 0,24-0,3 mm. di samping batil isap perut, ciri-ciri khas yang lain adalah batil isap kelamin yang terdapat di sebelah kirai belakang.
Siklus hidup selalu memerlukan keong sebagai hospes perantara I dan hospes perantara II (keong : Echinostoma, tumbuhan air F.buski; ikan H.heterophyes dan M.yokogawai).

b.      Patologi dan Gejala Klinis
Patologi penyakit yang disebabkan oleh Trematoda usus disebabkan oleh perlekatan cacing pada mukosa usus dengan batil isapnya. Semakin besar ukuran cacing maka semakin parah kerusakan yang ditimbulkan. Gejala klinis tergantung jumlah parasit dalam usus, pada infeksi ringan gejala tidak nyata, sedangkan pada infeksi berat gejala yang timbul adalah sakit perut, diare, dan akibat terjadinya malabsorpsi bisa timbul edema.

c.       Diagnosis dan Pengobatan
Diagnosis dilakukan dengan menemukan telur dalam tinja penderita. Bila bentuk telur hampir sama maka perlu menemukan cacing dewasanya dalam tinja penderita. Obat-obatan untuk trematoda usus hampir sama, yaitu tetrakloretilen, heksilresorsinol, dan praziquantel.

4.      Trematoda Darah
Pada manusia ditemukan 3 spesies penting: Schistosoma japonicum, Schistosoma mansomi dan Schistosoma haematobium. Selain spesies yang ditemukan pada manusia, masih banyak spesies yang hidup pada binatang dan kadang-kadang dapat menghinggapi manusia. Hospes definitifnya adalah manusia. Berbagai macam binatang dapat berperan sebagai hospes reservoir. Pada manusia, cacing ini menyebabkan penyakit skitosomiasis atau bilharziasis.
a.       Morfologi dan Daur Hidup
Cacing dewasa jantan berwarna kelabu atau putih kehitam-hitaman, berukuran 9,5 – 19.5 mm x 0.9 mm. Badannya berbentuk bundar dan pada kutikulumnya terdapat tojolan halus sampai kasar tergantung spesiesnya. Di bagian ventral badan terdapat Canalis gynaecophorus, tempat cacing betina, sehingga tampak seolah-olah cacing betina ada di dalam pelukan cacing jantan. Cacing betina badannya lebih halus dan panjang, berukuran 16,0 – 26,0 mm x 0.3 mm. Pada umumnya uterus berisi 50- 300 butir telur. Cacing trematoda ini hidup di pembuluh darah terutama dalam kapiler darah dan vena kecil dekat permukaan selaput lender usus atau kandung kemih.
Cacing betina meletakan telur di pembuluh darah. Telur tidak mempunyai operkulum.  Telur Cacing Schistosoma mempunyai duri dan liaklisasi duri tergantung pada spesiesnya. Telur berukuran 95 – 135 x 50 – 60 mikron. Telur dapat menembus keluar dari pembuluh darah, bermigrasi di jaringan dan akhirnya masuk ke lumen usus atau kandung kemih untuk kemudian di dalam tinja atau urin. Telu menetas di dalam air, larva yang keluar disebut mirasidium.
Cacing ini hanya mempunyai satu macam hospes perantara yaitu keong air, tidak terdapat hospes perantara kedua. Mirasidium masuk ke dalam tubuh keong air dan berkembang menjadi sprokista I dan sporokista II dan kemudian menghasilkan serkaria yang banyak. Serkaria adalah bentuk infektif cacing schistosoma. Cara infeksi pada manusia adalah serkaria menembus kulit pada waktu manusia masyk ke dalam air yang mengandung serkaria. Waktu yang diperlukan untuk infeksi adalah 5-10 menit. Setelah serkaria menembus kulit, larva ini kemudian masu ke dalam kapiler darah, mengalir dengan aliran darah masuk ke jantung kanan, lalu paru dan kembali ke jantung kiri; kemudian masuk ke sistim peredaran darah besar, ke cabang-cabang vena portae dan menjadi dewasa di hati. Setelah dewasa cacing ini kembali ke vena portae dan vena usus atau kandung kemih dan kemudian cacing betina bertelur setelah berkopulasi.

b.      Patologi dan Gejala Klinis
Perubahan-perubahan yang terjadi disebabkan oleh 3 stdium cacing ini yaitu serkaria, cacing dewasa dan telur. Perubahan-perubahan pada schistosomiasis dapat dapat ibagi dalam tiga stadium:
Ø  Masa tunas biologik
Waktu antara serkaria menembus kulit sampai menjadi dewasa disebut masa tunas biologic. Perubahan kulit yang timbul berupa eritema dan vapula yang disertai perasaan gatal dan panas. Bila banyak jumlah serkaria menembus kulit, maka akan terjadi dermatitis. Biasanya kelainan kulit hilang dalam waktu 2 atau 3 hari
Ø  Stadium akut
Stadium ini dimulai sejak cacing betina bertelur. Telur yang diletakan di dalam pembuluh darah dapat keluar dari pembuluh darah, masuk ke dalam jaringan sekitarnya dan akhirnya dapat mencapai lumen dengan cara menembus mukosa, biasanya mukosa usus. Efek patologis maupun gejala klinis yang disebabkan telur tergantung dari jumlah telur yang dikeluarkan, yang berhubungan langsung dengan jumlah cacing betina.
Ø  Stadium menahun
Pada stadium ini terjadi penyembuhan jaringan dengan pembentukan jaringan ikat atau vibrosis. Hepar yang semula membesar karena peradangan, kemudian mengalami pengecilan karena terjadi vibrosis, hal ini disebut sirosis. Pada schistosomiasis, sirosis yang terjadi adalah sirosis periportal, yang mengakibatkan terjadinya hipertensi portal karena adanya bendungan di dalam jaringan hati.

c.       Diagnosis dan Pengobatan
Diagnosis dibuat dengan menemukan telur dalam tinja, urin atau jaringan biopsi. Reaksi serologi dapat membantu menegaka diagnosis. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa obat-obat anti Schistosoma tidak ada yang aman atau agak toxik dan semuanya mempunyai resiko masing-masing.
Sperti telah diketahui cacing dewasa hidup di dalam vena mesenterika manusia dan binatang. Pengaruh obat anti Schistosoma dapat menyebabkan terlepasnya pegangan cacing dewasa pada pembuluh darah dan mengakibatkan tersapunya cacing tersebut ke dalam hati oleh sirkulasi portal, keadaan ini disebut Hepatic shift.
Ada beberapa obat yang mempengaruhi cacing dewasa ini menghambat sistim enzim tertentu, seperti persenyawaan antimon trivalen yang menghambat sistim enzim fosfofruktokinase S. mansoni, sehingga cacing tersebut tidak dapat memanfaatkan glikogen. 


BAB III
KESIMPULAN
Trematoda disebut sebagai cacing isap karena cacing ini memiliki alat pengisap. Alat pengisap terdapat pada mulut di bagian anterior tubuhnya. Kegunaan alat isap adalah untuk menempel pada tubuh inangnya. Pada saat menempel cacing ini mengisap makanan berupa jaringan atau cairan tubuh inangnya. Dengan demikian, Trematoda merupakan hewan parasit.
Cacing trematoda paru dewasa hidup dalam kista di paru. Bentuknya bundar lonjong menyerupai biji kopi, dengan ukuran 8-12x 4-6mm dan berwarna coklat tua.
Cacing trematoda darah dewasa jantan berwarna kelabu atau putih kehitamhitaman, berukuran 9,5-19,5 mm x 0,9 mm. Badannya berbentuk gemuk bundar dan pada kutikulumnya terdapat tonjolan halus sampai kasar, tergabtung spesiesnya.


DAFTAR PUSTAKA
Gandahusada, srisasi Prof.dr. dkk (ed). Parasitologi Kedokteran. Edisi ketiga, 2002. balai Penerbit FKUI. Jakarta.



Hormon tiroid



Hormon tiroid (bahasa Inggris: thyroid hormone, TH) adalah klasifikasi hormon yang mengacu pada turunan senyawa asam amino tirosina yang disintesis oleh kelenjar tiroid dengan menggunakan yodium. Terdapat dua jenis hormon dari klasifikasi ini yaitu tetra-iodotironina dan tri-iodotironina. Kedua jenis hormon ini mempunyai peran yang sangat vital di dalam metabolisme tubuh.
Istilah hormon tiroid juga sering digunakan untuk merujuk pada asupan senyawa organik pada terapi hormonal berupa levotikroksin, atau isoform terkait; meskipun terhadap dua hormon tiroid yang lain yaitu CT,[1] dan PTH
Hormon tiroid merupakan pengendali utama metabolisme dan pertumbuhan dengan, deiodinasi tetra-iodotironina yang memicu respirasi pada kompleks I rantai pernafasan mitokondria,[2] yang menjadi salah satu faktor laju metabolisme basal; dan modulasi transkripsi genetik melalui pencerap tri-iodotironina yang terdapat pada inti sel.[3] Pentingnya peran TH mulai dikenali pada abad ke 19 saat sebuah kasus pembesaran kelenjar tiroid dengan simtoma hipertiroidisme mengakibatkan gagal jantung, exophthalmos dan percepatan laju metabolisme basal. Studi lebih lanjut yang kemudian dilakukan, memberikan pengetahuan bahwa kedua hormon tiroid T4 dan molekulnya yang lebih reaktif, yaitu T3 mempunyai efek pleiotropik. Konversi T4 menjadi T3, pada plasma darah disebut monodeiodinasi, terjadi oleh enzim ID-I yang banyak terdapat pada hati dan ginjal, dan ID-2 yang terdapat pada otak, hipofisis dan jaringan adiposa cokelat.[4] Kedua jenis enzim deiodinase tersebut mengandung senyawa Selenium, dengan glukokortikoid sebagai senyawa promoter.[5]
Ekspresi genetik isoform miosin seperti Na+ ATPase, K+ ATPase, dan Ca2+ ATPase yang terdapat pada retikulum sarkoplasma, juga dikendalikan oleh TH.[6] Kekurangan konsentrasi TH seperti yang ditunjukkan oleh simtoma hipotiroidisme, merupakan akibat yang ditimbulkan dari terhambatnya lintasan oksidatif misalnya reaksi oksidasi asam piruvat, sedangkan konsentrasi TH yang berlebih akan mempercepat laju lintasan glikolisis seperti yang ditengarai pada hipertiroidisme. Konsentrasi TH yang berlebih atau kekurangan dapat menyebabkan hipotonia akibat penumpukan asam laktat yang disebut laktikasidemia.
TH juga memiliki sifat hipokolesterolemik yang menurunkan rasio plasma kolesterol tanpa mempercepat laju lintasan katabolisme kolesterol menjadi asam empedu, serta meningkatkan rasio asam kenodeoksikolat.[7]
Waktu paruh T4 sekitar 5-9 hari sedangkan untuk T3 hanya sekitar 1 hari.[8]
Hormon ini diketahui juga berperan dalam sistem kekebalan komplemen pada peningkatan laju lintasan MBL,[9] peningkatan protein komplemen C3, C4 dan CH50,[10] dan peningkatan protein plasma darah seperti:[11]
dan penurunan kadar protein serupa, antara lain:
Kelenjar tiroid adalah salah satu dari kelenjar endokrin terbesar pada tubuh manusia. Kelenjar ini dapat ditemui di bagian depan leher, sedikit di bawah laring. Kelenjar ini berfungsi untuk mengatur kecepatan tubuh membakar energi, membuat protein, dan mengatur sensitivitas tubuh terhadap hormon lainnya.
Kelenjar tiroid dapat distimulasi dan menjadi lebih besar oleh epoprostenol.[1]
Tiroid mengeluarkan tiga hormon penting, yaitu:
Triodotironin dan Tiroksin mengatur laju metabolisme dengan cara mengalir bersama darah dan memicu sel untuk mengubah lebih banyak glukosa.
Jika Tiroid mengeluarkan terlalu sedikit Triodotironin dan Tiroksin, maka tubuh akan merasa kedinginan, letih, kulit mengering dan berat badan bertambah. Sebaliknya jika terlalu banyak, tubuh akan berkeringat, merasa gelisah, tidak bisa diam dan berat badan akan berkurang.
Kelenjar Paratiroid (kelenjar anak gondok) terletak disetiap sisi kelenjar tiroid yang terdapat di dalam leher, kelenjar ini berjumlah 4 buah yang bersusun berpasangan yang menghasilkan hormon pada tiroksin. Masing-masing melekat pada bagian belakang kelenjar tiroid, kelenjar ini menghasilkan hormon yang berfungsi “ mengatur kadar kalsium dan fosfor di dalam tubuh “.
  • Fungsi umum kelenjar paratiroid adalah:
  1. mengatur metabilisme fosfor
  2. mengatur kadar kalsium darah

Hormon paratiroid
Hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin atau kelenjar buntu.
Kelenjar ini merupakan kelenjar yang tidak mempunyai saluran sehingga sekresinya akan
masuk aliran darah dan mengikuti peredaran darah ke seluruh tubuh. Apabila sampai
pada suatu organ target, maka hormon akan merangsang terjadinya perubahan. Pada
umumnya pengaruh hormon berbeda dengan saraf. Perubahan yang dikontrol oleh
hormon biasanya merupakan perubahan yang memerlukan waktu panjang. Contohnya
pertumbuhan dan pemasakan seksual.
Definisi hormon paratiroid
Paratiroid menempel pada kelenjar tiroid. Kelenjar ini menghasilkan parathormon
yang berfungsi mengatur kandungan fosfor dan kalsium dalam darah. Kekurangan
hormon ini menyebabkan
tetani dengan gejala: kadar kapur dalam darah
menurun, kejang di tangan dan kaki, jari-jari tangan membengkok ke arah
pangkal, gelisah, sukar tidur, dan kesemutan.
Kelenjar paratiroid panjangnya kira-kira 6 milimeter, lebar 3 milimeter, dan
tebalnya dua millimeter dan memiliki gambaran makroskopik lemak coklat
kehitaman
Secara normal ada empat buah kelenjar paratiroid pada manusia, yang terletak
tepat dibelakang kelenjar tiroid, dua tertanam di kutub superior kelenjar tiroid dan
dua di kutub inferior
Tumor paratiroid menyebabkan kadar parathormon terlalu banyak di dalam darah.
Hal ini mengakibatkan terambilnya fosfor dan kalsium dalam tulang, sehingga urin banyak mengandung kapur dan fosfor. Pada orang yang terserang penyakit ini tulang mudah sekali patah. Penyakit ini disebut von Recklinghousen.
SINTESIS DAN METABOLISME HORMON PARATIROID (PTH)
Hormon paratiroid (PTH) manusia adalah suatu polipeptida linear dengan berat
molekul 9500 yang mengandung 84 residu asam amino. Strukturnya sangat mirip
dengan PTH sapi dan babi. PTH disintesis sebagai bagian dari suatu molekul yang
lebih besar yang mengandung 115 residu asam amino (prapo-PTH). Setelah
prapo-PTH masuk ke dalam retikulum endoplasma, maka leader sequence yang
terdiri dari 25 residu asam amino dikeluarkan dari terminal N untuk membentuk
polipeptida pro-PTH yang terdiri dari 90 asam amino. Enam residu asam amino
lainnya juga dikeluarkan dari terminal N pro-PTH di apparatus Golgi, dan produk
sekretorik utama chief cells adalah polipeptida PTH yang terdiri dari 84 asam
amino.
Kadar normal PTH utuh dalam plasma adalah 10-55 pg/mL. Waktu paruh PTH
kurang dari 20 menit, dan polipeptida yang disekresikan ini cepat diuraikan oleh
sel-sel Kupffer di hati menjadi 2 polipeptida, sebuah fragmen terminal C yang
tidak aktif secara biologis dengan berat molekul 2500.
EFEK HORMON PARATIROID
PTH bekerja langsung pada tulang untuk meningkatkan resorpsi tulang dan memobilisasi
Ca2+. Selain meningkatkan Ca2+ plasma dan menurunkan fosfat plasma, PTH
meningkatkan ekskresi fosfat dalam urin. Efek fosfaturik ini disebabkan oleh penurunan
reabsorpsi fosfat di tubulus proksimal. PTH juga meningkatkan reabsorpsi Ca2+ di
tubulus distal, walaupun ekskresi Ca2+ biasanya meningkat pada hiperparatiroidisme
karena terjadi peningkatan jumlah yang difiltrasi yang melebihi efek reabsorpsi. PTH
juga meningkatkan pembentukan 1,25 dihidroksikolekalsiferol, metabolit vitamin D yang
secara fisiologis aktif. Hormon ini meningkatkan absorpsi Ca2+ dari usus, tetapi efek ini
tampaknya disebabkan hanya akibat stimulasi pembentukan 1,25
dihidroksikolekalsiferol.
Kontrol dari hormon Paratiroid
Sekresi dari hormon paratiroid tergantung dari suatu negative feed-back
mechanism yang diatur oleh kadar ion kalsium dalam plasma. Juga ada hormon
lain yang ikut mengatur kadar kalsium dalam serum yaitu calcitonin atau
thyrocalcitonin. Hormon ini diproduksi oleh kelenjar tiroid.
Beberapa observasi menunjukan bahwa ada hubungan antara paratiroid dengan
kelenjar-kelenjar endokrin lain. Umpamanya pernah didapat hiperplasia kelenjar
paratiroid pada akromegali, sindrom Cushing, dan penyakit Addison.
Hipofisektomi (pada binatang) menyebabkan involutiodari kelenjar-kelenjar
paratiroid, sedangkan pemberian hormon pertumbuhan (GH), adrenokortikotropin
(ACTH), ekstrak lobus anterior hipofisis dan steroid-steroid adrenal
mengakibatkan hiperplasia dari kelenjar-kelenjar paratiroid. Tetapi mungkin pula
bahwa perubahan kelenjar-kelenjar paratiroid adalah sekunder akibat perubahan
kadar fosfat dalam serum yang disebabkan oleh hormon-hormon tersebut.
Hiperplasia dari kelenjar-kelenjar paratiroid terdapat dalam keadaan-keadaan
dimana ada tendens dari ion kalsium untuk menurun, umpamanya pada penyakit
Rachitis (atau Osteomalacia), kehamilan, hilangnya kalsium dalam darah dan
insufisiensi ginjal yang disertai retensi fosfor.

elenjar paratiroid adalah kelenjar sangat kecil yang terletak pada setiap lobus bagian posterior dan tiroid. Kelenjar paratiroid menghasilkan hormon paratiroid (parathyroid hormon, PTH) atau parahormon.

PTH adalah hormon alami yang diproduksi oleh kelenjar paratiroid—empat kelenjar kecil yang terletak berdekatan dengan kelenjar tiroid di bagian bawah leher karena itulah dinamakan paratiroid, yang artinya “di sebelah tiroid”. Meskipun kelenjar-kelenjar ini sangat dekat dengan tiroid.
Fungsi utama hormon paratiroid adalah mengatur kadar kalsium fosfat dalam darah. Tidak seimbangnya kalsium dan fosfat dalam darah akan mengakibatkan gangguan transmisi impuls saraf, kerusakan jaringan tulang, gangguan pertumbuhan tulang, dan tetani otot.
Hormon paratiroid dan aktivitas osteoklas. Aktivitas osteoklas terutama dikontrol oleh hormon paratiroid, yang dilepaskan oleh kelenjar paratiroid yang terletak tepat di belakang kelenjar tiroid. Pelepasan hormon paratiroid meningkat sebagai respons terhadap penurunan kadar kalsium serum. Hormon paratiroid menigkatkan aktivitas osteoklas dan menstimulasi penguraian tulang sehingga membebaskan kalsium ke dalam darah. Peningkatan kalsium serum berkerja dengan cara umpan balik negatif untuk menurunkan pelepasan hormon paratiroid lebih lanjut. Terdapat hipotesis bahwa estrogen mengurangi resorpsi tulang dengan hambat efek hormon paratiroid pada osteoklas; mekanisme ini tidak diketahui. Efek lain hormon paratiroid adalah meningkatkan kalsium serum dengan menurunkan ekskresi kalsium oleh ginjal. Hermon paratiroid juga meningkatkan ekskresi ion fosfat oleh ginjal sehingga menurunkan kadar fosfat darah. Aktivasi vitamin D di ginjal bergantung pada hormon paratiroid.