Kamis, 09 Januari 2014

Klimakterium dan Menopouse


Klimakterium dan Menopouse


Disusun oleh :


 Ayu Widyastuti
 Detha Erenne Ch.
Hesti Yunitasari



KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES TANJUNG KARANG
PRODI DIII KEBIDANAN TANJUNG KARANG
TAHUN AJARAN 2012/2013

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Wanita sehat secara normal akan mengalami suatu proses degenerasi yang dinamakan menopause. Proses ini sering menimbulkan gejala-gejala yang dirasakan tidak menyenangkan. Oleh karena itu sangatlah penting bagi setiap wanita untuk benar-benar memahaminya. Sekitar separuh dari semua wanita berhenti menstruasi antara usia 45 dan 50, sekitar seperempat berhenti sebelum umur 45 tahun, dan seperempat lainnya terus menstruasi sampai melewati umur 50 tahun.
Selanjutnya, salah satu hal yang dapat dilakukan untuk membuat kehidupan saat menopause ini sedikit lebih mudah adalah dengan diet menopause yang dapat membantu untuk energi tubuh, mengendalikan berat badan dan mencegah sejumlah kondisi yang dapat menjadi lebih terlihat pada saat proses penuaan terus berlanjut. Terapi Sulih Estrogen (TSH) serta olahraga yang teratur juga dapat mengurangi beban pada saat terjadinya proses menopause ini. Untuk lebih jelasnya, akan dibahas pada pokok pembahasan
1.2  Tujuan
·                   Mahasiswa mengerti tentang menopause
·                   Mahasiswa dapat menerapkan dalam lahan praktek
·                   Pembaca mengerti apa itu menopause






BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Klimaterium
Klimakterium merupakan periode peralihan dari fase reproduksi menuju fase usia tua (senium) yang terjadi akibat menurunnya fungsi generatif ataupun endokrinologik dari ovarium. (Baziad, 2003. menopouse dan andropouse,hal.1 Nugroho, 2005. Obgyn. Obstetri dan ginekogi .hal. 64, dan Wiknjosastro, Hanifa,2008.Ilmu kandungan hal 128. http://obgyn-rscmfkui.com/berita )
Klimakterium mengacu pada periode kehidupan seorang wanita saat ia berpindah dari tahap reproduktif ke tahap tidak reproduktif (M.Bobak,Irene.2005.keperawatan maternitas hal 1015, dan Benson,Ralph C.Buku Saku Obstetri dan ginekologi,2002, hal 655,( http://hanscorp.web.id/makalah-tentang-kespro)
Klimakterium adalah masa yang bermula dari akhir masa reproduksi sampai awal masa senium dan terjadi pada wanita berumur 40-65 tahun. (http://kuliahbidan.wordpress.com/category/kewanitaan/klimakterium/, http://endriana25021989.wordpress.com/klimakterium/
Klimakterik ( gr klimaktér "skala, saat kritis dalam kehidupan") mengacu pada wanita tahun-tahun hormonal perubahan sebelum dan sesudah menopause dengan transisi dari fase reproduksi postmenopause. Periode ini disebut sepele seperti menopause (http:wikipedia.com/menopausedanklimakterium)
Sehingga dapat disimpulkan bahwa klimekterium adalah periode peralihan dari fase reproduksi menuju fase usia tua (senium) yaitu tahap tidak reproduktif dan terjadi akibat menurunnya fungsi generatif ataupun endokrinologik dari ovarium dan terjadi ada umur 40 – 65 tahun.
Klimakterium dibagi dalam beberapa fase, yaitu : :
  1. Pramenopause adalah fase antara usia 40 tahun dan dimulainya siklus haid yang tidak teratur, memanjang, sedikit atau banyak yang kadang-kadang disertai rasa nyeri.
  2. Perimenopause adalah fase peralihan antara pramenopause dan pascamenopause.
  3. Menopause adalah perdarahan haid yang terakhir.
  4. Pascamenopause adalah masa setelah mengalami menopause 12 bulan.
  5. Senium adalah bila seorang wanita talah memasuki usia pascamenopause lanjut sampai usia > 65 tahun (Ali Badziad, 2003).
2.1.1  Tanda-tanda awal dari klimaterium dan menopause
Tanda awal klimaterium
Masa ini ditandai denngan berbagai macam keluhan endokrinologis dan vegetatif yaitu; Terjadi perubahan pada ovarium seperti sclerosis pembuluh darah, berkurangnya jumlah folikel dan menurunnya sintesis steroid seks, berhenti haid dan ditandai dengan turunnya kadar estrogen dan meningkatnya pengeluaran gonadotropin.
Tanda awal menopause
-          Perubahan kejiwaan
Perubahan yang dialami oleh wanita dengan menjelang menopause adalah; merasa tua, mudah tersinggunga, mudah kaget sehingga jantung berdebar, takut tidak bisa memenuhi kebutuhan seksual suami, rasa takut bahwa suami akan menyeleweng. Keinginan seksual menurun dan sulit mencapai kepuasan (otgasme), dan juga merasa tidak berguna dan tidak menghasilkan sesuatu, merasa memberatkan keluarga dan orang lain.
-          Perubahan fisik
Pada perubahan fisik seorang wanita mengalami perubahan kulit. Lemak bawah kulit menghilang sehingga kulit mengendor, sehingga jatuh dan lembek. Kulit mudah terbakar sinar matahari dan menimbulkan pigmentasi dan menjadi hitam.pada kulit tumbuh bintik hitam, kelenjar kulit kurang berfungsi sehingga kulit menjadi kering dan keriput.
Karena menurunnya estrogen dapat menimbulkan perubahan kerja usus menjadi lambat, dan mereabsorbsi sari makanan makin berkurang. Kerja usus halus yang semakin berkurang maka akan menimbulkan gangguan buang iar besar berupa obstipasi.
Perubahan yang terjadi pada alat genetalia meliputi liang senggama terasa kering, lapisan sel liang senggama menipis yang menyebabkan mudah terjadi (infeksi kandung kemih dan liang senggama). Daerah sensitive makinsulit untuk dirangsang. Saat berhubungan seksual dapat menjadi nyeri.
Perubahan pada tulang terjadi oleh karena kombinasi rendahnya hormon paratiroid. Tulang mengalami pengapuran, artinya kalium menurun sehingga tulang keropos dan mudah terjadi patah tulang trutama terjadi pada persendian paha.
Gangguan klimaterium dan menopause
A. Gangguan pada klimakterium ialah :
1)      Gangguan neurovegetatif, yang disebut juga gangguan vasomotorik dapat muncul sebagai gejolak panas (hot flushes), keringat banyak, rasa kedinginan, sakit kepala, desing dalam telinga, tekanan darah yang goyah, berdebar-debar, susah bernafas, jari-jari atrofi dan gangguan usus.
2)      Gangguan psikis muncul dalam bentuk mudah tersinggung, depresi, kelelahan, semangat berkurang, dan susah tidur. Gangguan somatic, selain gangguan haid atau amenorea, mencakup pula kolpitis atrofikans, ektropium treter, osteoporosis, atritis, aterosklerosis, sclerosis koroner, dan adipositas.
B. Gangguan menopause ialah jadwal menopause
1)      Menopause premature
a.       Terhentinya haid pada umur 40 tahun
b.      Terdapat gejala premenopause hot flushes, kenaikan gonadotropin
2)      Menopause terlambat
§       Berhentinya haid setelah umur 55 tahun
§       Terdapat gejala menopause
§       Kelainan organic pada masa menopause
Dengan rangsangan estrogen terus-menerus tanpa selingan progesterone memberikan peluang terjadinya keadaan patologis organ tujuan estrogen dalam bentuk :
1)      Perdarahan disfungsional semakin meningkat
2)      Terjadi perubahan alat genetalia menjadi tumor jinak; mioma uteri, polip endometrial, polip servikal
3)      Karsinoma korpus uteri
4)      Keganasan payudara
2.2 Konsep Dasar Menopause
2.2.1 Pengertian Menopause

Menopouse diartikan sebagai haid alami terakhir , dan hal ini tidak terjadi bila wanita menggunakan kontrasepsi hormonal pada usia perimenopouse (Baziad, 2003. menopouse dan andropouse, hal. 5,   http://obgyn-rscmfkui.com/berita. )


Menopause adalah seperti pubertas merupakan fase alami dalam kehidupan seorang wanita dan bukan penyakit. Biasanya tidak memerlukan pengobatan kecuali ketidaknyamanan yang kuat yang disebabkan oleh perubahan hormonal(http:wikipedia.com/menopausedanklimakterium)
Menopouse merupakan sebuah kata yang mempunyai banyak arti yang terdiri dari kata men dan pauseis yang berasal dari bahasa yunani, yang pertama kali digunakan untuk menggambarkan berhentinya haid (Nugroho, 2005. Obgyn. Obstetri dan ginekogi .hal. 64 dan M.Bobak,Irene. 2005.keperawatan maternitas hal 1015)
Menopouse adalah kehidupan setelah menstruasi terakhir (Benson,Ralph C.Buku Saku Obstetri dan ginekologi,2002, hal 655 ,Wiknjosastro, Hanifa,2008.Ilmu kandungan Halaman 128, http://hanscorp.web.id/makalah-tentang-kespro)
Jadi dapat disimpulakan bahwa menopouse adalah fase ketika berhentinya menstruasi alami tanpa pengaruh kontrasepsi hormonal
2.2.2 Etiologi Menopause
Jumlah folikel yang mengalami atresia makin meningkat, sampai suatu ketika tidak tersedia lagi folikel yang cukup. Produksi estrogen pun berkurang dan tidak terjadi haid lagi yang berakhir dengan terjadinya menopouse. Oleh karena itu, menopouse diartikan sebagai haid alami terakhir, dan hal itu tidak terjadi bila wanita menggunakan kontrasepsi hormonal pada usia perimenopouse . perdarahan lucut terus terjadi selama wanita masih menggunakan pil kontrasepsi secara siklik dan wanita tersebut tidak mengalami keluhan klimakterik. Kita tidak pernah tahu kapan wanita tersebut memasuki usia menopouse. Untuk menentukan diagnosis menopouse, pil kontrasepsi harus segera dihentikan dan satu bulan kemudian dilakukan pemeriksaan FSH dan estradiol.
Bila pada usia perimenopause ditemukan ditemukan kadar FSH dan estradiol yang bervariasi (tinggi atau remdah), maka setelah memasuki usia menopause akan selalu ditemukan kadar FSH yang tinggi (> 40 Miu/ml). Kadar estradiol pada awal menopause dijumpai rendah hanya pada sebagian wanita, sedangkan pada sebagian wanita lain, apalagi pada wanita gemuk, kadar estradiol dapat tinggi. Hal ini terjadi akibat proses aromatisasi androgen menjadi estrogen di dalam jaringan lemak. Diagnosis menopause merupakan diagnosis retrospektif. Bila wanita tidak haid selama 12 bulan , dan dijumpai kada FSH darah >40 Miu/ml dan kadar Estradiol < 30pg/ml, telah dapat dikatakan wanita tersebut telah mengalami menopause.(Ali Baziad, 2003)
2.2.3 Patofisiologi Menopause
Sebelum seorang wanita mengalami menopause, telah terjadi perubahan anatomis pada ovarium berupa sclerosis vaskuler, pengurangan jumlah folikel primordial, serta penurunan aktivitas sintesa hormon steroid. Penurunan hormon estrogen akan berlangsung dimulai pada awal masa klimakterium dan makin menurun pada menopause, serta mencapai kadar terendah pada saat pascamenopause (Deborah, 2006).
Penurunan ini menyebabkan berkurangnya reaksi umpan balik negatif terhadap hypothalamus, yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan produksi gonadotropin sehingga membuat pola hormonal wanita klimakterium menjadi hipergonadotropin, hipogonadisme. Dengan menurunnya kadar estrogen di dalam tubuh maka fungsi fisiologis hormon tersebut akan menjadi terganggu. Perubahan fisiologik sindroma kekurangan estrogen akan menampilkan gambaran klinis berupa gangguan neurovegetatif, gangguan palkis, gangguan somatic, dan gangguan siklus haid. (Ali Baziad, 2003).
2.2.4 Gejala Menopause
Turunnya fungsi ovarium mengakibatkan hormon terutama estrogen dan progesteron sangat berkurang di dalam tubuh kita. Kekurangan hormon estrogen ini menyebabkan perubahan-perubahan :
A.       Perubahan Organ Reproduksi
Akibat berhentinya haid, berbagai organ reproduksi akan mengalami gangguan, diantaranya :
1.Uterus
Uterus mengecil, selain disebabkan atrofi endometrium juga disebabkan hilangnya cairan dan perubahan bentuk jaringan ikat interstesial. Serabut otot miometrium menebal, pembuluh darah miometrium menebal dan menonjol.
2. Tuba Falopi
Lipatan-lipatan tuba menjadi lebih pendek, menipis dan mengkerut, endosalpingo menipis mendatar dan silia menghilang.
3. Serviks
Serviks akan mengkerut, epitelnya menipis dan mudah cedera. Kelenjar endoservikal juga atropi dan lendir serviks menjadi berkurang.
4.Vagina
Terjadinya penipisan vagina menyebabkan hilangnya rugae, berkurangnya vaskularisasi, elastistik yang berkurang, sekret vagina menjadi encer.
5.Dasar pinggul
Kekuatan dan elastistik menghilang, karena atrofi dan melemahnya daya sokong prolaps utero vaginal.
6. Perineum dan anus
Lemak subcutan menghilang, atrofi otot sekitarnya menghilang yang menyebabkan tonus spincter melemah dan menghilang.
7.Vesica Urinaria
Aktivitas kendali otot kandung kemih menurun sehingga lebih sering ingin buang air kencing.
8. Payudara
Bentuk payudara akan mengecil, mendatar dan mengendor. Hal ini terjadi karena pengaruh atrofi pada kelenjar payudara. Puting susu mengecil dan pigmentasinya berkurang.

B.  Perubahan Hormon
Pada kondisi menopause reaksi yang nyata adalah perubahan hormon estrogen yang menjadi berkurang. Begitu juga perubahan yang terjadi pada hormon progesteron. Menurunnya kadar hormon ini menyebabkan terjadi perubahan haid menjadi sedikit, jarang, bahkan siklus haidnya mulai terganggu. Hal ini disebabkan tidak tumbuhnya selaput lendir rahim akibat rendahnya hormon estrogen.
C.  Perubahan Fisik
Ketika seseorang memasuki masa menopause, fisik mengalami ketidaknyamanan seperti rasa kaku dan linu yang dapat terjadi secara tiba-tiba di sekujur tubuh, misalnya pada kepala, leher dan dada bagian atas. Kadang-kadang rasa kaku ini dapat diikuti dengan rasa panas atau dingin, pusing, kelelahan, jengkel, resah, cepat marah, dan berdebar-debar . Beberapa keluhan fisik yang merupakan tanda dan gejala dari menopause yaitu:
1. Ketidakteraturan Siklus Haid
Tanda paling umum adalah fluktuasi dalam siklus haid, kadang kala haid muncul tepat waktu, tetapi tidak pada siklus berikutnya. Ketidakteraturan ini sering disertai dengan jumlah darah yang sangat banyak, tidak seperti volume pendarahan haid yang normal. Normalnya haid akan berakhir setelah tiga sampai empat hari, namun pada keadaan ini haid baru dapat berakhir setelah satu minggu atau lebih (Zainuddin Sri Kuntjoro, 2002).
2. Gejolak Rasa Panas (Hot flushes)
Arus panas biasanya timbul pada saat darah haid mulai berkurang dan berlangsung sampai haid benar-benar berhenti. Munculnya hot flushes ini sering diawali pada daerah dada, leher atau wajah dan menjalar ke beberapa daerah tubuh yang lain. Hal ini berlangsung selama dua sampai tiga menit yang disertai keringat banyak. Ketika terjadi pada malam hari, keringat ini dapat menggangu tidur dan bila hal ini sering terjadi akan menimbulkan rasa letih yang serius bahkan menjadi depresi (Zainuddin Sri Kuntjoro, 2002).

3. Kekeringan Vagina
Perubahan pada organ reproduksi, diantaranya pada daerah vagina sehingga dapat menimbulkan rasa sakit saat berhubungan intim. Selain itu, akibat berkurangnya estrogen menyebabkan keluhan gangguan pada epitel vagina, jaringan penunjang dan elastisitas dinding vagina. Padahal, epitel vagina mengandung banyak reseptor estrogen yang sangat membantu mengurangi rasa sakit dalam berhubungan seksual (Kasdu Dini, 2002).
4. Perubahan Kulit
Estrogen berperan dalam menjaga elastisitas kulit, ketika menstruasi berhenti maka kulit akan terasa lebih tipis, kurang elastis terutama pada daerah sekitar wajah, leher dan lengan. Kulit di bagian bawah mata menjadi mengembung seperti kantong, dan lingkaran hitam dibagian ini menjadi lebih permanen dan jelas (Zainuddin Sri Kuntjoro, 2002).

5. Keringat Berlebihan
Pancaran panas pada tubuh akibat pengaruh hormon yang mengatur termostat tubuh pada suhu yang lebih rendah. Akibatnya, suhu udara mendadak menjadi panas sehingga tubuh menjadi berkeringat. Gejala ini sering dialami pada malam hari (Dini Kasdu, 2002).
6. Gangguan Tidur
Kurang nyenyak tidur pada malam hari menurunkan kualitas hidup wanita menopause. Estrogen memiliki efek terhadap kuaitas tidur. Reseptor estrogen telah ditemukan di otak yang mengatur tidur (Ali Baziad, 2003).
7. Perubahan pada Mulut dan Hidung
Kekurangan estrogen menyebabkan perubahan mulut dan hidung. Selaput lendirnya berkerut, aliran darah berkurang, terasa kering dan mudah terkena gingivitis. Kandungan air liur juga mengalami perubahan. Pemberian estrogen dapat mengurangi keluhan tersebut (Ali Baziad, 2003).
8. Gangguan pada Otot dan Sendi
Banyak wanita menopause mengeluh nyeri otot dan sendi. Sebagian wanita, nyeri sendi erat kaitannya dengan perubahan hormonal yang terjadi. Timbulnya osteoartrosis dan osteoartritis dapat dipicu oleh kekurangan estrogen, karena kekurangan estrogen menyebabkan kerusakan matrik kolagen sehingga tulang rawan ikut rusak. Kejadiannya meningkat dengan meningkatnya usia (Ali Baziad, 2003).
D.  Psikologis
Aspek psikologis yang terjadi pada lansia atau wanita menopause amat penting peranan dalam kehidupan sosial lansia terutama dalam menghadapi masalah-masalah yang berkaitan dengan pensiun, hilangnya jabatan atau pekerjaan yang sebelumnya sangat menjadi kebanggaan wanita menopause tersebut.
Beberapa gejala psikologis yang menonjol ketika menopause adalah mudah tersinggung, sukar tidur, tertekan, gugup, kesepian, tidak sabar, tegang, cemas dan depresi. Ada juga lansia yang kehilangan harga diri karena menurunnya daya tarik fisik dan seksual, mereka merasa tidak dibutuhkan oleh suami dan anak-anak mereka, serta merasa kehilangan femininitas karena fungsi reproduksi yang hilang. Beberapa keluhan psikologis yang merupakan tanda dan gejala dari menopause yaitu:
1. Ingatan menurun
Gejala ini terlihat bahwa sebelum irienopause wanita dapat mengingat dengan mudah, namun sesudah mengalami menopause terjadi kemunduran dalam mengingat, bahkan sering lupa pada hal-hal yang sederhana, padahal sebelumnya secara otomatis langsung ingat.
2. Kecemasan
Banyak ibu-ibu yang mengeluh bahwa setelah menopause dan lansia merasa menjadi pencemas. Kecemasan yang timbul sering dihubungkan dengan adanya kekhawatiran dalam menghadapi situasi yang sebelumnya tidak pernah dikhawatirkan. Kecemasan pada ibu-ibu lansia yang telah menopause umumnya bersifat relatif, artinya ada orang yang cemas dan dapat tenang kembali, setelah mendapatkan semangat/dukungan dari orang di sekitarnya, namun ada juga yang terus-menerus cemas, meskipun orang-orang disekitamya telah memberi dukungan. Akan tetapi banyak juga ibu-ibu yang mengalami menopause namun tidak mengalami perubahan yang berarti dalam kehidupannya.
3. Stress
Tidak ada orang yang bisa lepas dari rasa cemas, termasuk para lansia menopause. Ketegangan perasaan atau stress selalu beredar dalam lingkungan pekerjaan, pergaulan sosial, kehidupan rumah tangga bahkan menyelusup ke dalam tidur. Kalau tidak ditanggulangi stress dapat menyita energi, mengurangi produktivitas kerja dan menurunkan kekebalan terhadap penyakit.
4. Depresi
Dari penelitian-penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Eropa diperkirakan 9,00% s/d 26,00% wanita dan 5,00% s/d 12,00% pria pernah menderita penyakit depresi yang gawat di dalam kehidupan mereka. Setiap saat, diperkirakan bahwa 4,50% s/d 9,30% wanita dan 23,00% s/d 3,20% pria akan menderita karena gangguan ini. Dengan demikian secara kasar dapat dikatakan bahwa wanita dua kali lebih besar kemungkinan akan menderita depresi daripada pria.
Wanita yang mengalami depresi sering merasa sedih, karena kehilangan kemampuan untuk bereproduksi, sedih karena kehilangan kesempatan untuk memiliki anak, dan kehilangan daya tarik. Wanita merasa tertekan karena kehilangan seluruh perannya sebagai wanita dan harus menghadapi masa tuanya.
Depresi dapat menyerang wanita untuk satu kali, kadang-kadang depresi merupakan respon terhadap perubahan sosial dan fisik yang sering kali dialami dalam fase kehidupan tertentu, akan tetapi beberapa wanita mungkin mengembangkan rasa depresi yang dalam yang tidak sesuai atau proporsional dengan lingkungan pribadi mereka dan mungkin sulit dihindarkan (Zainuddin Sri Kuntjoro, 2002).

2.3  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Menopause
Ø  Usia Saat Haid Pertama Kali (Menarche)
Beberapa ahli yang melakukan penelitian menemukan adanya hubungan antara usia pertama kali mendapat haid dengan usia seorang wanita memasuki menopause. Kesimpulan dari penelitian-penelitian ini mengungkapkan, bahwa semakin muda seorang mengalami haid pertama kalinya, semakin tua atau lama ia memasuki masa menopause.
Ø  Jumlah Anak
Meskipun belum ditemukan hubungan antara jumlah anak dan menopause, tetapi beberapa peneliti menemukan bahwa makin sering seorang wanita melahirkan maka semakin tua atau lama mereka memasuki masa menopause.
Ø  Usia Melahirkan
Masih berhubungan dengan melahirkan anak, bahwa semakin tua seseorang melahirkan anak, semakin tua ia mulai memasuki usia menopause. Penelitian yang dilakukan Beth Israel Deaconess Medical Center in Boston mengungkapkan bahwa wanita yang masih melahirkan di atas usia 40 tahun akan mengalami usia menopause yang lebih tua. Hal ini terjadi karena kehamilan dan persalinan akan memperlambat sistem kerja organ reproduksi. Bahkan akan memperlambat proses penuaan tubuh.
Ø  Faktor Psikis
Perubahan-perubahan psikologis maupun fisik ini berhubungan dengan kadar estrogen, gejala yang menonjol adalah berkurangnya tenaga dan gairah, berkurangnya konsentrasi dan kemampuan akademik, timbulnya perubahan emosi seperti mudah tersinggung, susah tidur, rasa kekurangan, rasa kesunyian, ketakutan keganasan, tidak sabar lagi dll. Perubahan psikis ini berbeda-beda tergantung dari kemampuan wanita untuk menyesuaikan diri.
Ø  Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi mempengaruhi faktor fisik, kesehatan dan pendidikan. Apabila faktor-faktor di atas cukup baik, akan mengurangi beban fisiologis, psikologis. Kesehatan akan faktor klimakterium sebagai faktor fisiologis.
Ø  Budaya dan Lingkungan
Pengaruh budaya dan lingkungan sudah dibuktikan sangat mempengaruhi wanita untuk dapat atau tidak dapat menyesuaikan diri dengan fase klimakterium dini.
2.4  Kebutuhan Dasar Menopause
Kebutuhan dasar pada menopause pada dasarnya sama dengan kebutuhan dasar manusia.
Abraham Harold Maslow (1908-1970), ahli psikologi membagi kebutuhan manusia menjadi 5, yaitu kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, prestise dan aktualisasi diri.
Kebutuhan Dasar Manusia (KDM) menurut Abraham Maslow adalah sebagai berikut:
-          Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs), yaitu kebutuhan makanan, minuman, tempat tinggal dan lain-lain.
-          Kebutuhan Keamanan (Safety Needs), yaitu kebutuhan akan perlindungan keselamatan terhadap bahaya atau kekerasan
-          Kebutuhan Sosial (Social Needs) timbul bila kedua kebutuhan sebelumnya telah dipenuhi, yaitu kebutuhan akan afiliasi, persahabatan serta memberi dan menerima kasih sayang/dihargai dengan/dari/oleh orang lain dalam kehidupan sosial masyarakat.
-          Kebutuhan Prestise (Ego/Esteem Needs), yaitu kebutuhan akan penghargaan untuk penghormatan diri, status, perhatian hingga penerimaan orang lain, yang muncul bila ketiga kebutuhan sebelumnya telah terpenuhi. Menurut Maslow kebutuhan ini jarang dapat dipuaskan.
-          Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-Actualization Needs) merupakan kebutuhan terakhir apabila keempat kebutuhan lainnya di atas telah terpenuhi, yang dapat mendorong perilaku seseorang untuk dapat mempertinggi kemampuan kerja.
Menurut Maslow, kebutuhan dasar manusia tersebut adalah berjenjang seperti piramid, yang mempunyai anak-anak tangga kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan harus dipenuhi dari kebutuhan tingkat pertama dan naik ke tangga-tangga kebutuhan berikutnya, tanpa bisa meloncat (Syukri, 2006).


2.5 Manajemen kebidanan klimakterium dan menopause
Bagaimana bidan menghadapi masalah klimaterium di tengah masyarakat. Seperti dikemukakan bahwa hanya sekitar 25 % wanita mengeluh karena terjadi penurunan estrogen tubuh dan memerlukan tambahan hormon sebagai substitusi. Pemberian substitusi hormon tanpa diikuti pengawasan ketat adalah berbahaya, karena bidan dapat mengambil langkah :
         Melakukan KIEM sehingga wanita denngan keluhan menopause dapat memeriksakan diri ke dokter puskesmas
         Bidan berkonsultasi dengan dokter puskesmas atau dokter ahli
         Setelah pengobatan, bidan dapat meneruskan pengawasan
         Bidan dapat merujuk penderita ke Rumah Sakit









BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ketika seseorang memasuki masa menopause, fisik mengalami ketidaknyamanan seperti rasa kaku dan linu yang dapat terjadi secara tiba-tiba di sekujur tubuh, misalnya pada kepala, leher dan dada bagian atas. Kadang-kadang rasa kaku ini dapat diikuti dengan rasa panas atau dingin, pusing, kelelahan, jengkel, resah, cepat marah, dan berdebar-debar .
Bagaimana bidan menghadapi masalah klimaterium di tengah masyarakat. Seperti dikemukakan bahwa hanya sekitar 25 % wanita mengeluh karena terjadi penurunan estrogen tubuh dan memerlukan tambahan hormon sebagai substitusi. Pemberian substitusi hormon tanpa diikuti pengawasan ketat adalah berbahaya, karena bidan dapat mengambil langkah :
         Melakukan KIEM sehingga wanita denngan keluhan menopause dapat memeriksakan diri ke dokter puskesmas
         Bidan berkonsultasi dengan dokter puskesmas atau dokter ahli
         Setelah pengobatan, bidan dapat meneruskan pengawasan
         Bidan dapat merujuk penderita ke Rumah Sakit
3.2    SARAN
Menjadi tua dan keriput memang hal yang sering ditakuti oleh para wanita. Namun, hal ini bukan berarti wanita kehilangan identitas kewanitaannya. Justru seharusnya sadar bahwa wanita yang mengalami masa menopause memulai fase kehidupan baru sebagai wanita yang matang dalam berpikir. Namun, memang tidak dapat dipungkiri bahwa saat memasuki masa menopause akan terjadi perubahan fisik dan emosi. Oleh karena itu, masa menopause merupakan masa yang membutuhkan penyesuaian diri dan pengertian dari berbagai pihak, terutama keluarga.
Selain hal tersebut penting diingat bahwa gaya hidup kita semasa muda sangat mempengaruhi gejala menopause yang akan dirasakan kelak. Berikut beberapa tips supaya tetap sehat saat memasuki masa menopause nanti, yaitu :
1)   Tidak merokok (bila merokok cobalah untuk berhenti),
2)   Tidak minum alkohol,
3)   Sering berolah raga secara teratur,
4)   Makan makanan yang sehat (terutama yang bersumber dari kacang kedelai sebagai sumber fitoestrogen)
5)   Cukup terkena cahaya matahari.
















DAFTAR PUSTAKA
Baziad,Ali. 2005. Menopause Dan Andropause. EGC. Jakarta: 2003.
Benson & Pernoll. 2002. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi . EGC
Bobak,dkk. 2005. Keperawatan Maternitas.Jakarta : EGC.
Nugroho, Taufan, 2005. Obstetri dan Ginekologi untuk Kebidanan dan Keperawatan. NucMed.
Wiknjosastro, H, 1997, Wanita dalam Berbagai Masa Kehidupan, edisi ke-3, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta.

http://obgyn-rscmfkui.com/berita.php?id=405

http:wikipedia.com/menopausedanklimakterium










Tidak ada komentar:

Posting Komentar