Rabu, 08 Januari 2014

KONSEP DALAM PENYULIT KALA I DAN KALA II


ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGI DENGAN PENYULIT KALA I DAN KALA II (KELAINAN PRESENTASI DAN POSISI)















KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES TANJUNG KARANG
PRODI KEBIDANAN TANJUNG KARANG
2013/2014


KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan hidayah serta rahmat kepada penulis, sehingga makalah Asuhan Kebidanan IV (Patologi) tentang Penyulit Kala I dan Kala II (Kelainan presentasi dan posisi)  ini dapat terselesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan IV (Patologi) juga untuk memberikan informasi kepada para pembaca tentang asuhan kebidanan patologi pada ibu hamil dengan Penyulit Kala I dan Kala II (Kelainan presentasi dan posisi).

Tak beranjak dari peribahasa “Tak ada gading yang tak retak”, maka penulis menyadari bahwa di dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Karena itu, saran dan kritik yang konstruktif sangat penulis harapkan agar memotivasi penulis untuk dapat membuat makalah lainnya di masa mendatang dengan lebih baik lagi.

Akhir kata, penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat dan dapat dijadikan sebagai bahan untuk menambah pengetahuan bagi para mahasiswa pada khususnya dan tenaga kesehatan serta masyarakat pada umumnya.


Bandar Lampung,   November 2013



Penulis




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Pengertian
a.       Mekanisme Persalinan
Proses persalinan terdiri dari 4 kala yaitu :
1)      Kala I : waktu pembukaan serviks sampai menjadi pembukaan lengkap 10 cm
2)      Kala II : kala pengeluaran janin, waktu uterus dengan kekuatan His ditambah kekuatan mengejan mendorong janin keluar hingga lahir.
3)      Kala III : waktu untuk pelepasan dan pengeluaran uri
4)      Kala IV : Persalinan Kala IV (empat) persalinan dimulai setelah lahirnya plasenta sampai 2 jam post partum


Kala I (Pembukaan)
Inpartu mulai dengan keluarnya lendir bercampur darah karena serviks mulai membuka dan mendatar. Darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler sekitar kanalis servikalis karena pergeseran ketika serviks mendatar dan terbuka kala pembukaan dibagi atas 2 fase, yaitu :
1)    Fase laten dimana pembukaan serviks berlangsung lambat ; sampai pembukaan 3 cm Berlangsung dalam 7-8 jam.
2)    Fase aktif di bagi 3 fa se yaitu :
a.       Fase akselerasi. Dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm tadi menjadi 4 cm
b.      Fase dilatasi maksimal. Dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm.
c.       Fase deselerasi. Pembukaan menjadi lambat kembali, dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap. (http://dewisartikapoltek12.blogspot.com)

Kala II (Pengeluaran Janin)
Pada kala II His menjadi lebih kuat dan lebih cepat, kira-kira 2 sampai 3 menit sekali. Karena biasanya dalam hal ini kepala janin sudah masuk ke ruang panggul. Maka His dirasakan tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara rektroktoris menimbulkan rasa mengedan. Wanita merasa pula tekanan pada rectum dan hendak buang air besar, perenium menonjol dan jadi lebar, anus membuka bila dasar panggul sudah berelaksasi, kepala janin tidak masuk lagi di luar His, dengan His dan kekuatan mengedan max kepala janin dilahirkan dengan suboksiput di bawah simpisis dan dahi, muka dan dagu melewati perenium. Setelah istirahat  badan dan anggota bayi.Pada primigravida kala II : 1,5 jam Pada multipara : 05 jam. (http://himikastikesmadani.blogspot.com)

Kala III (Pengeluaran Uri)
Setelah bayi lahir, uterus teraba keras dengan fundus uteri agak di atas pusat. Ada kontraksi untuk melepaskan plasenta dari dindingnya. Biasanya plasenta lepas dalam 6 sampai 25 menit setelah bayi lahir.

Kala IV (Observasi)

Kala IV (empat) persalinan dimulai setelah lahirnya plasenta
sampai 2 jam post partum. (http://ejurnal.mithus.ac.id)



b. Malposisi dan Malpresentasi
Malposisi menggambarkan presentasi vertex dengan posisi anterior yang tidak mengalami fleksus secara sempurna. Contohnya defleksi kepala, posisi oksipito lateral, dan oksipito posterior.Maplresentasi menggambarkan semua presentasi yang bukan vertex, contohnya presentasi wajah , dahi, bahu dan bokong. ( T.Y.LIU, David, 2007, Manual Persalinan Edisi 3, Jakarta : EGC ). Malposisi merupakan posisi abnormal verteks kepala janin ( dengan oksiput sebagai titik acuan ) terhadap panggul ibu. Malpresentasi merupakan presentasi janin selain verteks . ( Yulianti, Devi, 2005, Manajemen Komplikasi Kehamilan dan Persalinaan, Jakarta : EGC)
Presentasi adalah bagian terendah janin, normalnya adalah presentasi bagian belakang kepala dengan diameter kepala yang masuk ke pintu atas panggul adalah diameter yaitu 9.5 cm. Presentasi ada dua macam yakni presentasi tunggal dan presentasi majemuk. Sedangkan posisi adalah arah penunjuk dari presentasi tersebut, normalnya posisi adalah anterior yaitu apabila kepala dalam keadaan fleksi, bila fleksi baik maka kedudukan oksiput lebih rendah dari pada sinsiput. (http://dewisartikapoltek12.blogspot.com)
Malpresentasi artinya bagian terbawah bukan belakang kepala, misalnya pada presentasi puncak kepala dengan UUB. Malposisi adalah kepala janin relatif terhadap pelvis degan oksiput sebagai titik referensi. Atau malposisi merupakan abnormal dari vertek kepala janin (dengan ubun-ubun kecil sebagai penanda) terhadap panggul ibu, dimana oksiput berada di atas posterior dari diameter transversal pelvis adalah suatu malposisi. Dalam keadaan malposisi dapat terjadi partus macet atau partus lama.  ( Prawiroharjo, Sarwono, 2006, Ilmu Kebidanan, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo).
Hasil pemeriksaan untuk mendiagnosa malposisi (menurut) Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Sarwono Prawirohardjo :
a.       Pemeriksaan abdominal : bagian terendah abdomen datar, bagian kecil janin teraba bagian anterior dan DJJ dibagian samping (flank)
b.      Pemeriksaan vaginal : oksiput ke arah sakrum, sinsiput dianterior akan mudah teraba bila kepala defleksi

BAB II
ISI

A. Penyulit Kala I
Persalinan lama
Masalah :
a.       Fase laten lebih dari 8 jam
b.      Persalinan telah berlangsung selama 12 jam/lebih tanpa kelahiran bayi
c.       Dilatasi serviks di kanan garis waspada pada partograf.
Penanganan Umum:
a.    Nilai dengan segera keadaan umum ibu hamil dan janin (termasuk tanda vital dan tingkat hidrasinya).
b.    Kaji kembali partograf, tentukan apakah pasien berada dalam persalinan
c.    Nilai frekuensi dan lamanya His
d.   Perbaiki keadaan umum dengan :
e.    Dukungan, perubahan posisi, (sesuai dengan penanganan persalinan normal)
f.     Periksa kefon dalam urine dan berikan cairan, baik oral maupun parenteral
g.    dan upayakan buang air kecil (kateter bila perlu).
Berikan analgesic :  tramadol atau petidin 25 mg IM (maximum 1 mg/kg BB atau morfin 10 mg IM, jika pasien merasakan nyeri. (http://dewisartikapoltek12.blogspot.com)

Penanganan Khusus:
  1. Persalinan palsu/belum in partu (False Labor)
Periksa apakah ada ISK( Infeksi Saluran Kemih ) atau ketuban pecah, jika didapatkan adanya infeksi, obati secara adekuat, jika tidak ada pasien boleh rawat jalan.
  1. Fase laten memanjang (Prolonged Latent Phase)
Diagnosa fase laten memanjang dibuat secara retrospektif, jika his berhenti. Pasien disebut belum inpartu/persalinan palsu. Jika his makin teratur dan pembukaan makin bertambah lebih dari 4 cm, pasien masuk dalam fase laten :
1)      Jika fase laten lebih dari 8 jam dan tidak ada tanda-tanda kemajuan lekukan penilaian ulang terhadap serviks
2)       Jika tidak ada perubahan pada pendataran atau pembukaan serviks dan tidak ada gawat janin, mungkin pasien belum inpartu.
3)       Jika ada kemajuan dalam pendataran atau pembukaan serviks lakukan amniotomi dan induksi persalinan dengan oksitosin atau prostaglandin.
4)       Lakukan penilaian ulang setiap 4 jam
5)       Jika pasien tidak masuk fase aktif setelah dilakukan pemberian oksitosin selama 8 jam, lakukan SC
6)       Jika didapatkan tanda-tanda infeki (demam, cairan, berbau):
7)       Lakukan akselerasi persalinan dengan oksitosin
8)       Berikan antibiotika kombinasi sampai persalinan:
9)       Ampisilin 2 g IV setiap 6 jam
10)   Ditambah Gentaisin 5 mg/kgBB IV setiap 24 jam
11)   Jika terjadi persalinan pervaginam stop antibiotika pasca persalinan
12)   Jika dilakukan SC, lanjutkan pemberian antibiotika ditambah Metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam sampai ibu bebas demam selama 48 jam

3.      Fase Aktif Memanjang
1)      Jika tidak ada tanda-tanda CPD atau obstruksi, dan ketuban masih utuh, pecahkan ketuban
2)       Nilai His
3)      Jika his tidak adekuat (<3>
4)      Jika his adekuat (3 kali dalam 10 menit dan lamanya > 40 detik) pertimbangkan disproporsi, obstruksi, malposisi/mal presentasi
5)      Lakukan penanganan umum untuk memperbaiki his dan mempercepat kemajuan persalinan

Faktor-faktor Penyebab Persalinan Lama:
1.       His Tidak Efisien
2.       Faktor Janin
3.       Faktor Jalan Lahir

B.     Penyulit Kala II ( Malposisi dan Malpresentasi)
            Pada persalinan normal, saat melewati jalan lahir kepala janin dalam keadaan fleksi, dalam keadaan tertentu fleksi tidak terjadi, sehingga terdefleksi.
Ada beberapa kelainan saat kepala janin tidak melakukan fleksi dengan baik, sesuai dengan derajat defleksinya dibagi menjadi :

 







a.       Presentasi puncak kepala
Pada umumnya presentasi puncak kepala merupakan kedudukan sementara, yang kemudian akan berubah menjadi presentasi belakang kepala.
Bentuk puncak kepala merupakan bentuk defleksi yang paling ringan, tetapi karena lingkaran kepala bayi yang akan melalui jalan lahir (sirkumfrensia oksipito-bregmatika) sepanjang 34 cm, maka akan terjadi distorsia. 
Pada keadaan dan kedudukan atau penempatan
disebut juga presentasi sinsiput.
Presentasi puncak kepala disebut juga presentasi sinsiput terjadi apabila derajat defleksinya ringan, sehingga UUB merupakan bagian terendah. (prwirohardjo, sarwono, 2006, ilmu kebidanan, Jakarta : yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo)

Etiologi
a.       Kelainan panggul
b.      Anak kecil/mati
c.       Kerusakan dasar panggul

Komplikasi
a.       Ibu
1)      Robekan jalan lahir yang lebih luas
2)      Partus lama
b.      Anak
Karena partus lama dan molase hebat sehingga mortalitas anak agak tinggi

Diagnosis presentasi puncak kepala :
·               Dapat diraba kedua fontanella mayor dan minor
·               Persalinan dapat berlangsung dengan :
1). Glabella (daerah licin tanpa rambut) bertindak sebagai hipomoglion.
2).  Sirkumferensia oksipito frontalis sebesar 34 cm, melalui jalan lahir. 
Mekanisme persalinan :
            Mekanisme persalinannya hampir sama dengan posisi oksipitalis posterior persisten, perbedaannya pada presentasi puncak kepala tidak terjadi fleksi kepala yang maksimal, sedangkan lingkaran kepala yang melalui jalan lahir adalah sircumfarensia fronto oksipitalis dengan titik perputaran yang berada dibawah simpisis ialah glabela. (prwirohardjo, sarwono, 2006, ilmu kebidanan, Jakarta : yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo)
·   Bila posisi berubah menjadi belakang kepala atau presentasi muka dengan mento anterior maka dapat dilahirkan pervaginam
·   Lingkaran yang melalui jalan lahir cukup besar (34  cm) sehingga dapat menimbulkan trauma.
·   Morbiditas dan mortalitas lebih tinggi
·   Bila posisi tidak berubah atau terjadi komplikasi, maka persalinan dapat dilakukan dengan:
1)      vakum
2)      forcep
3)      secsio secaria (http://maphiablack.blogspot.com)
b.      Presentasi dahi

Ialah keadaan dimana kedudukan kepala berada diantara fleksi maksimal dan defleksi maksimal, sehingga dahi merupakan bagian terendah. Pada umumnya presentasi dahi bersifat sementara dan akan berubah menjadi presentasi muka atau belakang kepala.
(prwirohardjo, sarwono, 2006, ilmu kebidanan, Jakarta : yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo)

Kepala terdapat antara fleksi dan defleksi , dengan sendirinya berubah menjadi letak muka atau letak belakang kepala. (Marohoesodo, Seto, 1971, Kompedium Patology Kebidanan , Bandung : Ricopy ). Presentasi dahi adalah posisi kepala antara fleksi dan defleksi, sehingga dahi merupakan bagian terendah. Posisi ini biasanya akan berubah menjadi letak muka atau belakang kepala. Kepala menusuk panggul dengan dahi melintang/miring pada waktu putar paksi dalam, dahi memutar kedepan dan berada di bawah alkus pubis, kemudian terjadi fleksi sehingga belakang kepala terlahir melewati perineum lalu terjadi defleksi sehingga lahirlah dagu ( bila berubah menjadi presentasi muka). Pada presentasi dahi diameter yang masuk pintu panggul atas adalah diameter mento occipitalis (13.5) sehingga Kecuali pada kepala yang kecil atau panggul yang sangat luas, engagemen kepala yang diikuti dengan persalinam pervaginam tak mungkin terjadi. (http://maphiablack.blogspot.com)

Pada presentasi dahi yang transien, progonosis tergantung pada presentasi akhir. Bila tetap pada presentasi dahi, prognosis persalinan pervaginam sangat buruk kecuali bila janin kecil atau jalan lahir sangat luas.Bentuk dari Kelainan Sikap ( habitus ) berupa gangguan defleksi moderate.Presentasi yang sangat jarang.Diagnosa ditegakkan bila VT pada PAP meraba orbital ridge dan ubun-ubun besar. (http://dewisartikapoltek12.blogspot.com)
Diagnosis
DJJ jauh lebih jelas didengar di bagian dada yaitu di sebelah yang sama dengan bagian – bagian kecil. Kepala janin tidak dapat turun ke rongga panggul pada wanita yang pada persalinan sebelumnya tidak pernah mengalami kesulitan. (prwirohardjo, sarwono, 2006, ilmu kebidanan, Jakarta : yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo)
1. Pemeriksaan Luar
a. Palpasi        
·         Bokong di fundus
·         Punggung di sebelah kiri atau kanan
·         Kepala diatas simphisis. Benjolan kepala berada disebelah yang sama seperti punggung akan tetapi tidak sejelas letak muka
b.Auskultasi : bunyi jantung anak paling jelas didengar melewati dada.
2.                  Pemeriksaan Dalam
Yang dapat diraba ialah sutura frontalis dengan UUB diujung yang satu dan pangkal hidung , pinggir orbita di ujung lainnya.( Marohoesodo, Seto, 1971, Kompedium Patology Kebidanan , Bandung : Ricopy )
3.  Presentasi dapat dikenali melalui pemeriksaan palpasi abdomen dimana dagu atau oksiput dapat diraba dengan mudah dan teraba tonjolan kepala teraba pada punggung anak.
4. Bunyi jantung anak pada bagian-bagian kecil.
5.Diagnosa dipastikan dengan VT dan teraba sutura frontalis – ubun-ubun besar – orbital ridges – mata atau pangkal hidung.
Presentasi dapat dikenali melalui pemeriksaan palpasi abdomen dimana dagu dan oksiput dapat diraba dengan mudah. Diagnosa dipastikan dengan VT dan teraba sutura frontalis – ubun-ubun besar – orbital ridges – mata atau pangkal hidung. Kadang-kadang dagu juga dapat diraba melalui pemeriksaan VT. (http://dewisartikapoltek12.blogspot.com)
Etiologi
a.       Panggul sempit
b.      Janin besar
c.       Multiparitus
d.      Kelainan janis
e.       Kematian janin intrauteri

Komplikasi
a.       Ibu
Partus lama dan lebat sulit, bisa terjadi robekan yang hebat dan ruptur uteri
b.      Anak
Mortalitas janin tinggi 

Mekanisme persalinan
Kepala masuk panggul dengan dahi melintang atau miring, dengan turunnya kepala maka dahi memutar kedepan . kalau fossa canica ada dibawah simphisis terjadi fleksi untuk melahirkan kepala lewat perineum kemudian terjadi defleksi untuk melahirkan mulut dan dagu dibawah simphisis. (Marohoesodo, Seto, 1971, Kompedium Patology Kebidanan , Bandung : Ricopy ). Pada janin yang sangat kecil atau panggul yang luas persalinan pervaginam biasanya berlangsung dengan mudah. Pada janin aterm dengan ukuran normal, persalinan pervaginam sulit berlangsung oleh karena engagemen tidak dapat terjadi sampai terjadinya molase hebat yang memperpendek diamater occipitomentalis atau sampai terjadinya fleksi sempurna atau ekstensi maksimum menjadi presentasi muka. Persalinan pervaginam pada presentasi dahi yang persisten dapat berlangsung bila terdapat molase berlebihan sehingga bentuk kepala berubah. Molase berlebihan akan menyebabkan caput didaerah dahi sehingga palpasi dahi menjadi sulit.
image
Presentasi dahi
Pada gambar 20.5 diatas, terlihat bahwa kepala berada diantara posisi fleksi sempurna dengan ekstensi sempurna. Kecuali pada kepala yang kecil atau panggul yang sangat luas, engagemen kepala yang diikuti dengan persalinam pervaginam tak mungkin terjadi. Pada janin kecil atau panggul luas persalinan pervaginam biasanya berlangsung dengan mudah. Pada janin aterm dengan ukuran normal, persalinan pervaginam sulit berlangsung oleh karena engagemen tidak dapat terjadi sampai adanya molase hebat yang memperpendek diameter occipitomentalis atau sampai terjadinya fleksi sempurna atau ekstensi menjadi presentasi muka.
Persalinan pervaginam pada presentasi dahi yang persisten hanya dapat berlangsung bila terdapat molase berlebihan sehingga bentuk kepala berubah.  Molase berlebihan akan menyebabkan caput didaerah dahi sehingga palpasi dahi menjadi sulit. Pada presentasi dahi yang bersifat sementara (penempatan dahi) , progonosis tergantung pada presentasi akhir. Bila presentasi dahi sudah bersifat menetap, prognosis persalinan pervaginam sangat buruk kecuali bila janin kecil atau jalan lahir sangat luas.
Penanganan
Presentasi dahi dengan ukuran panggul dan janin yang normal tidak akan lahir secara spontan, sehingga harus dilakukan SC. Jika pada kala 1 belum masuk rongga panggul dapat diusahakan mengubah presentasi dengan prasat thorn jika tidak berhasil lakukan SC. jika kala 2 tidak berhasil lakukan SC. (prwirohardjo, sarwono, 2006, ilmu kebidanan, Jakarta : yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo)

c.                   Persentasi muka
Kepala terdapat dalam keadaan defleksi sehingga belakang kepala tertekan pada punggung. ( Martohoesodo, Seto, 1971, Kompedium Patology Kebidanan , Bandung : Ricopy ). Disebabkan oleh hiperekstensi kepala janin sehingga baik oksiput maupun sinsiput tidak teraba pada periksa dalam. ( Yulianti, Devi, 2005, Manajemen Komplikasi Kehamilan dan Persalinan , Jakarta : EGC ).
Disebabkan oleh terjadinya ektensi yang penuh dari kepala janin yang teraba muka janin = mulut, hidung,dagu dan pipi.



 









Etologi  :
1.      Panggul sempit
2.      Anak besar
3.      Multiparitas
4.      Tumor pada leher
5.      Anensepalus ( Martohoesodo, Seto, 1971, Kompedium Patology Kebidanan , Bandung : Ricopy ).
6.      Diameter antero posterior panggul ledih panjang dari diameter transvesa
7.      Segmen depan menyempit
8.      Otot-otot dasar panggul yang lembek dan multipara
9.      Kapala janin yang kecil dan bulat
Dagu merupakan titik acuan dari posisi kepala sehingga ada prsentasi muka dagu Anterior dan Posterior
1)      Presentasi muka dagu anterior posisi muka fleksi
2)      Presentasi muka dagu posterior posisi muka defleksi Max

Text Box: Pemeriksaan Radiologis pada presentasi muka
(hiperekstensi kepala dan tulang belakang janin)

image
Etiologi :
  • Tumor leher janin
  • Lilitan talipusat
  • Janin anensepalus
  • Kesempitan panggul dengan janin yang besar
  • Grande multipara dengan perut gantung (pendulous abdomen)

Diagnosa
1.   Presentasi wajah primer: merupakan diagnosis kepala apabilea tidak mengalami penurunan , kepala terasa besar atau jika pembesaran kepala terasa pada sisi uterus yang sama dengan punggung janin. Radiologi atau pemindaian ultrasonografi dilakukan untuk memastikan kecurigaan. Kaji keadekuatan pelvis dan singkirkan semua abnormalitas (janin dan ibu ). (http://dewisartikapoltek12.blogspot.com)
2.      Presentasi Wajah Sekunder : curigai diagnosis ini jika presentasi janin terlihat rendah sedangkan bagian besar dari kepala teraba pada suprapubis sedangkan bagian besar dari kepala teraba pada suprapubis. Mata, hidung, supraorbital dan alveolar serta mulut dapat dirasakan pada pemeriksaan pervaginam. Tidak seperti anus, mulut  tidak mencengkeram jari pemeriksa dan gusi janin dapat dirasakan. Pemindaian USG dapat mempetegak diagnosis ( T.Y LIU, David, 2007, Manual Persalinan Edisi 3 , Jakarta : EGC ).
Pemeriksaan luar
  1. Palpasi :
1)      Bokong di fundus
2)      punggung sebelah kiri atau kanan
3)      kepala diatas simphisis, benjolan kepala terdapat di sebelah yang sama seperti di punggung
  1.  auskultasi :
bunyi di jantung anak paling jelas terdengar melewati dada anak jadi paling jelas disebelah yang sama seperti bagian – bagian kecil.

Pemeriksaan Dalam

Yang dapat diraba adalah dagu, mulut, hidung dan orbita. ( Martohoesodo, Seto, 1971, Kompedium Patology Kebidanan , Bandung : Ricopy )
Tonjolan kepala teraba sepihak dengan punggung.dan antara belakang kepala dengan punggung terab asudut yang runcing ( sudut fabre).tonjolan kepala ini berlawanan dengan bagian-bagian kecil janin.bunyi jantung anak juga terdengar pada bagian kecil janin.
Leopold I             : dalam fundus teraba biokong
                        Leopold II                   : punggung teraba sebelah kanan, bagian-bagian kecil sebelah kiri agak kedepan dan lebih mudah teraba 
                        Leopold III                 : kepala dapat digerakan diatas sympisis kecuali kalau kepala sedah masuk PAP
Leopold I V         : tonjolan kepala sebelah kiri
Ascultasi              : bayi jantung anak terdengar sebelah kanan (http://dewisartikapoltek12.blogspot.com)

Penanganan
10.           Dagu anterior
Bila pembukaan lengkap Lahirkan dengan persalinan spontan pervaginam
Bila kemajuan persalinan lembut lakukan disitoksin drip. Bila penurunan kurang lancar sedangkan pembukaan belum lengkap dan Tidak didapatkan tanda opstuksi, lakukkan oksitosin drip. Lakukan evaluasi persalinan sama dengan perslinan vertek. 
11.  Dagu posterior
bila pembukaan lengkap SC bila pembukaan tidak lengkap, lakukan penilaian penurunan rotasi, dan kemajuan persalinan, jika macet SC
Pada presentasi muka terjadi hiperekstensi maksimum kepala sehingga oksiput menempel dengan punggung janin dengan demikian maka yang merupakan presentasi (bagian terendah) janin dan sekaligus denominator adalah mentum. Dalam orientasinya dengan simfisis pubis, maka presentasi muka dapat terjadi dengan mento anterior atau mento posterior.
Pada janin aterm dengan presentasi muka mento-posterior, proses persalinan terganggu akibat bregma (dahi) tertahan oleh bagian belakang simfisis pubis. Dalam keadaan ini, gerakan fleksi kepala agar persalinan pervaginam dapat berlangsung terhalang, maka persalinan muka spontan per vaginam tidak mungkin terjadi.
Text Box: Mentoposterior, dagu berada dibagian posterior .

image 
Persalinan pervaginam hanya mungkin berlangsung bila dagu berputar ke anterior.  Bila dagu berada di anterior, persalinan kepala per vaginam masih dapat berlangsung pervaginam melalui gerakan fleksi kepala.  Pada sejumlah kasus presentasi muka dagu posterior, dagu akan berputar spontan ke anterior pada persalinan lanjut sehingga dapat terjadi persalinan spontan per vaginam atau menggunakan ekstraksi cunam. Pada tahun 1995 sampai 1999 , angka kejadian presentasi muka di Parkland Hospital sekitar 1 : 2000 persalinan. (http://smartsroom.blogspot.com)
Mekanisme persalinan pada presentasi muka:
1.      Ekstensi : daerah yang dipilih secara acak pada janin untuk menentukan posisi presentasi wajah adalah dagu. Yang dapat dipalpasi karena kepala ekstensi bukan fleksi.
2.      Engagement : terjadi ketika diameter trakelobregmatik telah melewati PAP.
3.      Penurunan terjadi seluruhnya : ekstensi yang lebih jauh terjadi ketika menemui tahanan dan dahi serta oksiput ditekan kebelakang sementara dagu menjadi bagian terbawah dari bagian presentasi dan memimpin arah penurunan melalui pelvis ibu.
4.      Rotasi internal biasanya terjadi terakhir dalam persalinan pada saat penurunan memungkinkan seluruh bagian wajah janin berada pada dasar pelvis dengan baik.
5.      Pelahiran kepala : saat dagu berotasi ke arh mentum anterior, kepala dilahirkan dengan mekanisme ganda, yaitu ekstensi yang dilanjutkan dengan mekanisme ganda , yaitu ekstensi yang dilanjutkan dengan fleksi.
6.      Resusitasi terjadi 45 º kearah asal kepala berotasi pada saat rotasi internal.
7.      Rotasi eksternal : terjadi 45 º lagi ke arah yang sama seperti restitusi sebagai contoh ke posisi RMT ( atau LOT )
8.      Pelahiran bahu dan badan : hal ini terjadi dengan fleksi lateral melalui sumbu carus. ( Varney , Hellen, dkk, 2007, Buku Ajar Asuhan Kebidanan Volume 2, Jakarta : EGC )
Text Box: Mekanisme persalinan pada presentasi muka mentoposterior.
Terjadi putar paksi dalam sehingga dagu berputar keanterior dan lahir pervaginam


Presentasi muka jarang terjadi bila kepala masih diatas Pintu Atas Panggul. Umumnya keadaan diawali dengan presentasi dahi yang kemudian pada proses desensus berubah menjadi presentasi muka . Mekanisme persalinan terdiri dari densensus – putar paksi dalam – fleksi – ekstensi dan putar paksi luar.
image
Tujuan Putar Paksi Dalam adalah agar dagu berada dibelakang simfisis pubis oleh karena hanya pada posisi ini kepala janin dapat melewati perineum melalui gerakan fleksi. Setelah Putar Paksi Dalam dagu kedepan selesai dan tahapan desensus berikutnya berlangsung, maka dagu dan mulut nampak di vulva dan persalinan kepala berlangsung melalui gerakan fleksi. Setelah kepala lahir, oksiput akan mendekati anus dan dagu berputar seperti saat memasuki Pintu Atas Panggul. Persalinan bahu berlangsung seperti pada presentasi belakang kepala. Pada presentasi muka, edema akan merubah bentuk wajah. Molase juga terjadi dan menyebabkan bertambah panjangnya diameter occipitomentalis. (http://smartsroom.blogspot.com)
Penatalaksanaan:
  1. Kaji ukuran janin dengan cermat, wajah tidak mengalami molase dan pelahiran pervaginam tidak mungkin dilakukan kecuali diameter pelvis ideal.
  2. Pastikan analgesia yang adekuat
3.      Mempertahankan pengawasan yang ketat. Distress janin cenderung terjadi karena lamanya persalinan dan posisi leher yang salah. diagnosis ( T.Y LIU, David, 2007, Manual Persalinan Edisi 3 , Jakarta : EGC ).
4.      Kenali bahwa presentasinya adalah persentasi muka dan memberitahu dokter yang bertanggung jawab mengenai malpresentasi ini
5.      Evaluasi kembali keadekuatan pelvis dan konsultasikan dengan dokter juka terdapat keraguan mengenai kemungkinan disproporsi sefalopelvic untuk menyingkirkan kondisi ini
6.      Pantau dengan cermat mekanisma persalinan rotasi internal. Bidan harus segera memberitahu dokter jika rotasi ke arah posisi mentun posterior langsung

Untuk pelahiran kepala:
1.      Beri tekanan pada dahi janin guna mempertahankan ekstensi sampai dagu dilahirkan . 
2.      Kendalikan kepala memungkinkan fleksi bertahap dan pelahiran bagian yang lebih banyak. ( Varney , Hellen, dkk, 2007, Buku Ajar Asuhan Kebidanan Volume 2, Jakarta : EGC )
Bila ukuran panggul normal dan kemajuan proses persalinan berlangsung secara normal, persalinan pervaginam pada presentasi muka dapat berlangsung dengan wajar. Observasi Detik Jantung Janin dilakukan dengan monitor eksternal. Presentasi muka sering terjadi pada panggul sempit, maka terminasi kehamilan dengan SC sering terpaksa harus dilakukan. Usaha untuk merubah presentasi muka menjadi presentasi belakang kepala , pemutaran posisi dagu posterior menjadi dagu anterior secara manual atau dengan cunam, serta dengan versi ekstraksi dalam era obstetri modern tidak lagi dikerjakan. Prinsip penatalaksanaan sama dengan pada presentasi muka.
d.   Persentasi  occiptio posterior persisten
Pada persalinan persentasi belakang kepala, kepala janin turun melalui PAP dengan sutura sagitaris melintang / miring, sehingga UUK dapat berada di kiri melintang, kanan melintang, kiri depan, kanan depan, kiri belakang atau kanan belakang.

Etiologi
a)    Diameter antero posterior panggul lebih panjang dari diameter tranvesa
b)    Segmen depan menyempit
c)    Otot-otot dasar pinggul yang lembek pada multipara
d)   Kepala janin yang kecil dan bulat
e)    Tidak terjadi putaran paksi dalam sehingga sutura sagitalis tetap melintang.
f)    Bayi besar
g)   Pelvis android atau anthropoid
h)   Plasent letk rendah anterior
i)     Defleksi kepala( Malrotasi (TY, LIU, David, 2007, Manual Pesalinan  Edisi3, Jakarta : EGC)

Diagnosa
1.   Palpasi
Ekstremitas janin berada diantara anterior dan memberikan tampilan cekung pada abdomen bagian bawah ibu. Kepala tidak cakap dan sinsiput terasa superficial ketika ibu yang berbaring horizontal dipalpasi. Bahu janin dan bunyi jantung terkeras dan terletak lateral dari garis tengah.
2. Pemeriksaan Pervaginal
Bagian persentasi tidak menempel dengan baik pada serviks. Sering terjadi defleksi. Fontanel anterior mudah teraba di bawah simphisis. Jika diagnosis mengalami kesulitan, masukkan satu jari melalui sisi wajah janin dan tentukan letak telinga. Gerakkan jari melalui dasar telinga akan menunjukkan bahwa pinna mengarah ke oksiput. (TY, LIU, David, 2007, Manual Pesalinan  Edisi3, Jakarta : EGC)

Penanganan  
3.    Jika terdapat tanda – tanda obstruksi tetapi DJJ  normal, minta ibu untuk mengubah posisi untuk mendorong rotasi spontan. Jika DJJ abnormal ( < 100 / > 180 x/menit ) pada semua kala lahirkan janin melalui SC.
4.    Jika ketuban utuh pecahkan.
5.    Jika pembukaan serviks tidak lengkap dan tidak terdapat tanda – tanda obstruksi percepat persalinan dengan oksitosin
6.    Jika pembukaan lengkap tapi tidak terjadi penurunan pada fase pengeluaran kaji tanda – tanda obstruksi dan percepat dengan oksitosin.
7.    Jika pembukaan lengkap dan kepala janin teraba > 3/5 diatas simphisis atau ujung penonjolan tulang kepala janin berada di atas stasion -2 Lakukan SC.
8.    Jika pembukaan lengkap dan kepala janin teraba diantara 1/5 dan 3/5 diatas simphisis pubis atau ujung penonjolan kepala janin berada diantara stasion 0 dan -2.
Lahirkan dengan ekstraksi vakum dan simfisiotomi (Yulianti, Devi, 2005, Manajemen Komplikasi Kehamilan dan Persalinan , Jakarta : EGC)
9.    Lakukan pengawasan dengan seksama dengan harapan dapat lahir spontan
10.              Tindakan baru di lakukan jika kala II terlalu lama/ada tanda-tanda bahaya terhadap janin. Jika Pada persalinan dapat terjadi robekan peremium yang teratur atau extensi dari episiotomi
11.              Periksa ketuban bila intake, pecah ketuban
12.  Bila penurunan kepala 3/5 diatas PAP atau diatas 2 SC
13.  Bila pembukaan belum lengkap dan tidak ada tanda obstruksi, beri oksitosin drip.
14.  Bila pembukaan lengkap dan tidak ada kemajuan pada fase pengeluaran, ulangi apakah ada obstruksi. Bila tidak ada tanda abstruksi oksitosin drip
15.  Bila pembukaan lengkap dan kepala masuk sampai tidak kurang 1/5 atau O EV atau forseps
16.  Bila ada tanda obstruksi / gawat janin  SC



DAFTAR PUSTAKA


Chapman, Vicky, 2006, Asuhan Kebidanan Persalina dan Kelahiran , Jakarta : EGC
Marohoesodo, Seto, 1971, Kompedium Patology Kebidanan , Bandung : Ricopy
Prawirohardjo, Sarwono, 2006, Ilmu Kebidanan, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
TY, LIU, David, 2007, Manual Pesalinan  Edisi3, Jakarta : EGC
Varney , Hellen, dkk, 2007, Buku Ajar Asuhan Kebidanan Volume 2, Jakarta : EGC
Yulianti, Devi, 2005, Manajemen Komplikasi Kehamilan dan Persalinan , Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar